Simpati Yang Salah Alamat
Oleh : Sya2
Kehamilan memang selalu membawa berkah tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan selama ini. Dari berkah terkecil misalnya menjadi sangat dimanja oleh suami sampai berkah terbesar akan datangnya sang jabang bayi.
Disadari atu tidak, diakui atau tidak, saat kita hamil suami akan menjadi ekstra perhatian kepada kita (terkecuali tipe suami yang cuek bebek ya), apapun yang menjadi keinginan kita biasanya akan dituruti dengan senang hati. Ingin dibelikan apa saja dan di mana saja pasti dituruti (dengan catatan kantong sedang tidak kosong lho..).
Ingin dibelai, dipijat atau dielus-elus perut , bahkan tanpa diminta pun setiap hari suami akan melakukannya dengan suka rela.
Tak hanya suami yang begitu hati-hati memperlakukan kita saat hamil. Orang-orang di sekeliling kita pun begitu. Saat kita berdiri di atas bis atau KRL, orang dengan suka rela akan memberikan tempat duduknya untuk kita. Saat kita berjalan dengan membawa beban berat, akan ada orang yang suka rela membantu membawakannya. Bahkan pernah ketika saya hamil tua dan sedang berjalan menanjak di sebuah mall di depok, ada seorang satpam yang datang sambil mengulurkan segelas es teh untuk saya. "kasihan ibu lagi hamil, pasti kehausan.." katanya tulus. Begitu banyak orang yang bersimpati terhadap para BUMIL. ya kan? (Mengingat nikmat-nikmat seperti itu rasanya jadi pengen hamil lagi deh ... hehe )
Tapiii ... (dengan gaya dave hendrik )
Bila kita sedang tidak hamil namun orang mengira kita sedang hamil dan memperlakukan kita seperti orang hamil, ini namanya berkah atau musibah
ya? Bisa berkah,bisa juga musibah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan bagaimana kita menyikapinya tergantung suasana hati kita.
Ini cerita pribadi.
Entah kenapa akhir-akhir ini orang mengira saya sedang hamil. Mungkin karena tubuh saya yang 'subur' ya. Dan di perut masih tersisa lemak bekas hamil anak ke-2 kemarin .
"Hamil lagi ya mbak?" tanya seorang teman di kantor ketika berbarengan di lift. Saya hanya tersenyum . Dalam hati membatin, Ini orang menuduh atau mendoakan ya?
Rupanya senyum saya tadi disalah artikan olehnya. Sehingga tak berapa lama merebaklah gosip bahwa saya sedang hamil lagi. Tiap kali ketemu teman kantor yang menjadi bahan sapaan adalah tak jauh-jauh dari kalimat "Sudah berapa bulan mbak?".
"Oh ya, anak saya ? sudah 10 bulan sekarang lho.." jawabku pura-pura tak tahu arti pertanyaannya.
"Enggak, maksudnya mbak sekarang sudah hamil berapa bulan?" tanyanya
"Aduuh.. gosip, kenapa begitu gencar sih?" .Gerutuku. Kalau yang begini ini namanya musibah nih.. hua..hua.. hiks
Ada lagi cerita lain.
Suatu hari kondisi KRL sedang penuh-penuhnya. Saya berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Tiba-tiba ada seorang bapak yang berdiri sambil menyerahkan tempat duduknya untuk saya. "Silahkan duduk bu, ibu kan lagi hamil, kasihan..".
Dan saya pun bersyukur, bukan karena didoakan hamil tapi karena diberi tempat duduk. Keisengan saya sedang muncul jadinya saya diam saja dan sekalian saja berpura-pura hamil. Lumayan kan nggak pegel karena harus berdiri dari Tanah Abang sampai Depok? hehehe..
Kalau yang begini ini namanya anugerah, hehehe...
Tapiii.... (lagi-lagi dengan gaya dave hendrik)
Kalau sering-sering dikira hamil oleh orang lain. Lama-kelamaan diriku jadi berpikir sendiri. Segendut apakah diriku ini sehingga banyak yang mengira sedang hamil?
Haruskah kuumumkan kepada dunia bahwa berat badan saya ini sudah turun sebanyak 10 kilogram setelah kelahiran anak ke-2 sepuluh bulan yang lalu itu? Haruskah kujelaskan bahwa saya ini masih menyusui bayi saya sehingga nggak mungkin diet menurunkan berat badan saat ini?
Ah buat apa sih, toh mereka tetap saja menganggap saya ini gendut karena sedang hamil. "EGP, emang gue pikirin" begitu pasti komentar mereka.
Lagi-lagi ini cerita pribadi.
Pagi ini.
Saya sedang asik berdiri di pojokan KRL ekonomi-AC sambil asik menelusuri baris demi baris novel "My Salwa My Palestine"
ketika ada seorang ibu menyapa "Mbak, pakai saja koran ini buat duduk..".
"Terimakasih bu, saya berdiri saja.." jawabku.
Lalu si ibu-ibu itu berbisik-bisik dengan teman sebelahnya. Saya tak terlalu mendengarnya hanya ujung telinga ini sempat menangkap kata "hamil" yang mereka ucapkan.
Lalu si Ibu berdiri dan menyerahkan kursi lipatnya untuk saya.
"Mbak, pakai aja kursi saya mbak.. mbak lagi hamil kan? kasihan.." katanya.
Saya tersenyum. "Makasih bu.. tidak usah, buat ibu saja.." lagi-lagi deh, kali ini harus kujelaskan kepada mereka.
"Iya mbak, pakai aja, kami tadi nggak tau sih kalau mbak lagi hamil.. pake aja mbak.." Ibu-ibu sebelahnya ikutan nimbrung.
Keterlaluan, sudah, ini sudah tak bisa ditoleransi.
"Maaf ya ibu-ibu, silahkan saja bangkunya buat ibu-ibu, saya sudah terbiasa berdiri di KRL dan lagi saya tidak hamil kok.."
"Yang bener mbak, jangan bohong lho...? "
Ampun, dikira bohong lagi.
"Bener bu... " terimakasih atas simpatinya buat saya, tapi sayang simpati ibu salah alamat. Tentu kalimat itu tak terucap, hanya berputar-putar di batin saya aja.
"Simpati yang salah alamat" . Saya lebih menyukainya ketimbang kalimat "simpati yang mandul". Kalimat pertama menunjukkan bahwa dari dalam diri seseorang itu masih muncul sisi-sisi manusiawi, rasa kepekaan sosial kepada sesama (meskipun salah alamat..).
Sedangkan kalimat kedua, simpati yang mandul. Menunjukkan bahwa rahim nuraninya telah kering, sehingga tak bisa melahirkan rasa kepekaan sosial lagi, yang ada hanya sikap apatis alias cuek bebek atas penderitaan orang lain.
Banyak juga lho di Jakarta raya ini orang-orang yang mengalami kemandulan rasa simpati.
Nggak usah jauh-jauh deh, liat saja di KRL. di tempat duduk yang jelas-jelas tertulis untuk ibu hamil dan MANULA ada seorang atau beberapa orang bapak yang dengan cueknya duduk di sana. Bahkan ketika ada seorang ibu hamil menghampiri mereka malah
pura-pura tidur. Kemanakah simpati mereka? . Oh mungkin sudah terkubur dalam-dalam di tanah makam bernama rasa kecuekan.
Seorang teman mengeluhkan kepada saya dengan setengah menangis ketika tak ada orang yang merasa kasihan padanya saat dia tak mendapat tempat duduk di KRL padahal dia sedang hamil tua. "Kenapa ya nggak ada yang kasian sama gue.. , apa mungkin karena gue kurang amal kali ya.." katanya sembari menyalahkan dirinya sendiri.
"Sabar mbak, itu karena mereka sedang mandul.. nggak bisa ngelahirin rasa simpati..." saya mencoba menenangkannya meski dalam hati juga bertanya-tanya , mungkin juga karena kitanya yang kurang beramal ya?
Kalau simpati saja susah lahir, apalagi dengan empati ya?
Ketika tetangga atau saudara ditimpa cobaan, seseorang yang berempati tinggi tentu akan langsung bergerak untuk turut meringankan penderitaannya. Syukurlah saya dikelilingi oleh orang-orang yang berempati tinggi. Teman-teman, sodara, tetangga-tetangga saya Insya Allah tidak mandul simpati.
Ah sudahlah, kok jadi ngelantur gini tulisan ini, dari hamil sampe simpati - empati.
Sudahlah, akhiri saja tulisan ini.
Selamat bekerja kembali !
Catatan : ada sms melegakan datang dari suami "sudahlah bun gpp dikira hamil, yang penting kan ASI masih lancar.."
Sumber : Milist SK
Isi dalam artikel ini sepenuhnya diluar tanggung jawab Yayasan Sekolah Kehidupan. Jika anda berminat untuk mengirimkan artikel, silakan klik
disini! |