Ayat Ayat Cinta : Antara fenomena & Kontroversial
Bersama : Hanung Bramantyo
Hujan masih belum berhenti, titik-titik air kini menjelma seakan butiran-butiran kristal yang menghiasi hamparan dunia. Ia kembali datang setelah hampir beberapa pekan lamanya ia tak kunjung tiba. Matahari pagi entah dimana kini ia bersembunyi, sejak shubuh tadi memang ibu kota diselimuti oleh dinginnya suasana. Embun yang biasanya tersipu dan dengan cepat berlalu, berganti karena hangatnya suasana, kini bertengger kokoh di kedinginan cakrawala. Dari balik jendela, aku melepaskan pandang jauh ke arah sana, arah dimana sebuah tanah lapang terhampar di ujung sana . Beberapa anak kecil masih dengan asyiknya berlari, dan mengejar sebuah bola putih yang kini telah bercampur dengan coklatnya tanah lapang.
Gerimis memulai hari di pagi ini. Awan hitam menggelayut diantara bentangan luasnya mayapada. Semilir angin lembut menghempas butiran-butiran halus titik air hujan menyapa wajah. Matahari pagi tersipu malu sembunyi dibalik kesunyian hari. Langkah-langkah dan hentakkan kaki membawa diri menelusuri satu demi satu jejak langkah. Seorang bapak dengan tekunnya memilah satu demi satu tanaman hijau yang menghiasi taman itu. Gerak tangannya seolah tidak asing lagi untuk memilih tanaman mana yang mesti dicabut, atau tanaman mana yang mesti dibiarkan tetap tumbuh menghiasi hari-hari dan suasana hati kami yang terbiasa melewati taman itu.
Udara memang begitu panas. Matahari tak kalah teriknya bersinar dan menari-nari diatas kepala. Sesekali terpaan angin menghembus menusuk badan seakan mengepulkan asap dan menyemburkan aroma bau dari neraka. Ruangan sempit berukuran 3x3 meter telah menghimpit ruang waktu dalam satu sisi hidup. Aku berjalan menuju arah jendela, tidak lebih dari tiga langkah dari tempat awalku berada. Aku terdiam.
Redaktur : Dikdik Andhika Ramdhan
| Isi dalam artikel ini sepenuhnya diluar tanggung jawab Yayasan Sekolah Kehidupan |